Umroh Hemat Hotel Dekat bersama Ufuk Umroh melayani dengan sepenuh hati Meraih ibadah umrah sempurna dengan kondisi prima dan bahagia.
Umroh Hemat Hotel Dekat bersama Ufuk Umroh melayani dengan sepenuh hati Meraih ibadah umrah sempurna dengan kondisi prima dan bahagia.
4 Jun 2025 Artikel

Penting! Hukum dan Tata Cara Sholat Idul Adha

Shalat Idul Adha merupakan salah satu ibadah penting dalam Islam yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hukumnya, sebagian berpendapat wajib, sementara sebagian lain menyatakan sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan).

Rangkaian Pelaksanaan Shalat Idul Adha

1. Memperbanyak Takbir

Takbir dimulai setelah Shalat Subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga waktu Ashar pada hari terakhir Tasyrik (13 Dzulhijjah). Takbir ini dilakukan setiap waktu, tidak terbatas hanya setelah salat wajib, dan dianjurkan untuk dikeraskan (jahr).

Dalil:

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ بِمِنًى تِلْكَ الْأَيَّامَ وَخَلْفَ الصَّلَوَاتِ وَعَلَى فِرَاشِهِ وَفِي فُسْطَاطِهِ وَمَجْلِسِهِ وَمَمْشَاهُ تِلْكَ الْأَيَّامَ جَمِيعًا وَكَانَتْ مَيْمُونَةُ تُكَبِّرُ يَوْمَ النَّحْرِ وَكُنَّ النِّسَاءُ يُكَبِّرْنَ خَلْفَ أَبَّانَ بْنِ عُثْمَانَ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ لَيَالِيَ التَّشْرِيقِ مَعَ الرِّجَالِ فِي الْمَسْجِد [رواه البخاري].

Bahwasanya ‘Umar r.a. bertakbir di kubahnya di Mina, kemudian didengar oleh orang-orang yang ada di masjid dan mereka pun mengikuti takbir, demikian juga orang-orang yang di pasar ikut bertakbir, hingga bergemuruh suara takbir di Mina. Pada hari-hari tasyrik, Ibn Umar juga bertakbir di Mina, baik sehabis salat, sewaktu di tempat tidur, waktu duduk atau berjalan, di dalam kemah atau di tempat lainnya. Maimunah juga bertakbir pada hari raya kurban, dan para wanita bertakbir di masjid bersama kaum laki-laki di bawah pimpinan Abbān ibn ‘Uṡmān dan ‘Umar ibn ‘Abd al-Azīz pada malam-malam tasyrik [HR al-Bukhārī].

2. Lafadz Takbir

Lafal takbir yang dianjurkan:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allāhu Akbar – Allāhu Akbar – Lā ilāha illallāh – Wallāhu Akbar – Allāhu Akbar – Wa lillāhil ḥamd

Dalil:

“Ketika para sahabat memasuki hari Arafah… mereka mengucapkan takbir…”
(HR Ibn Abī Syaibah)

3. Berhias dan Menggunakan Wewangian

Pada hari raya, umat Islam dianjurkan memakai pakaian terbaik dan wewangian.

Dalil:

عَنْ زَيْدِ بْنِ الْحَسَن بْنِ عَلِي عَنْ أَبِيْهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعِيْدَيْنِ أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدِ مَا نجِدُ وَأَنْ نَضْحِيَ بِأَسْمَنِ مَا نَجِدُ الْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْجَزُوْرَ عَنْ عَشَرَةٍ وَأَنْ نُظْهِرَ التَّكْبِيْرَ وَعَلَيْنَا السَّكِيْنَةُ وَالْوَقَارُ [رواه الحاكم].

Dari Zaid ibn al-Ḥasan bin Alī dari ayahnya (diriwayatkan) ia berkata: Kami diperintahkan oleh Rasulullah saw pada dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) untuk memakai pakaian terbaik yang ada, memakai wangi-wangian terbaik yang ada, dan menyembelih binatang kurban tergemuk yang ada (sapi untuk tujuh orang dan unta untuk sepuluh orang) dan supaya kami menampakkan keagungan Allah, ketenangan dan kekhidmatan [HR al-Ḥākim dalam kitabnya al-Mustadrak, IV: 256].

4. Tidak Makan Sebelum Salat Idul Adha

Berbeda dengan Idul Fitri, pada Idul Adha dianjurkan tidak makan sebelum salat.

Dalil:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ [رواه الترمَذي].

Dari Abdullah ibn Buraidah dari ayahnya (yaitu Buraidah bin al-Husaib) (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah saw pada hari Idulfitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Iduladha tidak makan sehingga selesai salat [HR at-Tirmiżī].

Waktu Pelaksanaan Shalat Idul Adha

Waktu pelaksanaannya lebih pagi dibanding Idul Fitri, yakni dimulai sejak matahari setinggi tombak hingga menjelang zawāl (matahari tergelincir ke barat).

Dalil:

“Nabi SAW biasa mengakhirkan salat Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan salat Idul Adha.”
(Zād al-Ma’ād, Ibn Qayyim)

Tata Cara Shalat Idul Adha

  1. Dua rakaat, tanpa azan, iqamah, maupun seruan aṣ-ṣalātu jāmi’ah.

  2. Rakaat pertama:

    • Takbiratul ihram dan niat.

    • Membaca doa iftitah.

    • Takbir tambahan 7 kali, di antara setiap takbir disunnahkan membaca tasbih.

    • Membaca Al-Fatihah dan surah.

  3. Rakaat kedua:

    • Bangkit dari sujud dan takbir intiqal.

    • Takbir tambahan 5 kali.

    • Membaca Al-Fatihah dan surah.

  4. Setelah salat: Khatib menyampaikan khutbah Id.

Dalil:

عَنْ عَائِشَة أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيدَيْنِ فِي الْأُولَى سَبْعًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ وَفِي الْآخِرَةِ خَمْسًا قَبْلَ الْقِرَاءَة [رواه أحمَد]

Dari Āisyah (diriwayatkan bahwa) Rasulullah saw pada salat dua hari raya bertakbir tujuh kali dan lima kali sebelum membaca (al-Fatihah dan surah) [HR Aḥmad].

Tidak Ada Salat Sunnah Sebelum dan Sesudah

Dalil:

“Rasulullah saw salat dua rakaat pada Iduladha atau Idulfitri, dan tidak salat sebelumnya maupun sesudahnya.”
(HR Muslim)

Tidak Ada Azan dan Iqamah

Dalil:

“Aku melaksanakan salat Id bersama Rasulullah SAW, tanpa azan dan iqamah.”
(HR Muslim)

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *