Umroh Hemat Hotel Dekat bersama Ufuk Umroh melayani dengan sepenuh hati Meraih ibadah umrah sempurna dengan kondisi prima dan bahagia.
Umroh Hemat Hotel Dekat bersama Ufuk Umroh melayani dengan sepenuh hati Meraih ibadah umrah sempurna dengan kondisi prima dan bahagia.
8 Jun 2026 Artikel

Ini Cara Mabit di Muzdalifah Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Setelah melaksanakan puncak ibadah haji yaitu wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, jamaah haji akan bergerak menuju ke Muzdalifah. Tempat tersebut berada di kawasan di antara Padang Arafah dan Mina.

Bermalam atau singgah di tempat ini dikenal dengan istilah Mabit. Berikut kami tulis artikel tentang Pengertian dan panduan mabit di Muzdalifah berdasarkan tuntunan sunnah Rasulullah SAW.

Penertian Mabit di Muzdalifah

Secara bahasa, Mabit artinya bermalam, beristirahat, atau tinggal/diam di suatu tempat pada malam hari. Dalam konteks ibadah haji, mabit di Muzdalifah adalah berdiam diri atau bermalam di Muzdalifah setelah bertolak dari Arafah, dimulai sejak masuknya waktu Maghrib pada malam tanggal 10 Dzulhijjah hingga terbit fajar (hari Idul Adha).

Hukum Mabit

Menurut Jumhur (mayoritas) ulama mabit di Muzdalifah hukumnya Wajib. Artinya, jika ditinggalkan tanpa uzur syar’i, hajinya tetap sah tetapi pelakunya berdosa dan wajib membayar dam (denda) berupa menyembelih seekor kambing. Jika seseorang tidak memungkinkan mabit (hanya melintas tanpa bermalam) karena kesehatan atau uzur yang syar’i, maka haji tetap Sah dan tidak membayar Dam.

Dalil Mabit di Muzdalifah

Sebagaimana Firman Allah SWT:

“Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram (Muzdalifah).” (Al Baqarah: 198)

Dari Jabir bin Abdullah RA dalam hadits riwayat Imam Muslim mengenai sifat haji Nabi SAW:

“Lalu Nabi SAW menaiki kendaraan al-Qaswa’ hingga tiba di Muzdalifah. Di sana beliau shalat Maghrib dan Isya dengan satu azan dan dua iqamah tanpa shalat sunnah di antara keduanya. Kemudian beliau berbaring (tidur) hingga terbit fajar…” (HR. Muslim).

Amalan saat Mabit di Muzdalifah

Berikut amalan jamaah Haji saat berada di Muzdalifah:

  1. Melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya secara Jamak Takhir: Setibanya di Muzdalifah, jamaah langsung mendirikan shalat Maghrib (3 rakaat) dan Isya (2 rakaat/qashar) dengan satu azan dan dua iqamah. Shalat ini dilakukan sebelum jamaah beres-beres barang atau mengumpulkan batu.

  2. Beristirahat dan Tidur: Sunnah utama malam tersebut adalah tidur (tidak menghidupkan malam dengan shalat tahajud atau qiyamul lail secara khusus), agar fisik prima untuk rangkaian ibadah esok harinya (hari tasyrik/lempar jumrah).

  3. Mengambil Batu Kerikil: Jamaah mengambil batu kerikil ukuran jempol/ruas jari di sekitar area Muzdalifah untuk persiapan melontar Jumrah Aqabah di Mina. (Jumlah minimal untuk hari pertama adalah 7 butir).

  4. Melaksanakan Shalat Subuh di Awal Waktu & Berdoa di Masy’aril Haram: Setelah fajar terbit, jamaah mendirikan shalat Subuh secara berjamaah. Selanjutnya, jamaah mengikuti sunnah untuk berdiri menghadap kiblat di Masy’aril Haram guna memanjatkan dzikir, mengumandangkan takbir, serta memanjatkan doa dengan mengangkat kedua tangan hingga langit menguning (sebelum matahari terbit).

Batasan Waktu Mabit di Muzdalifah

Bagi jamaah haji, disunnahkan untuk menetap di Muzdalifah sampai terbit fajar dan melaksanakan shalat Subuh di sana, kemudian bertolak ke Mina sebelum matahari terbit. Tetapi apabila terdapat jamaah yang lemah (lansia, wanita, anak-anak, disabilitas) serta para pendamping atau petugas haji bisa meninggalkan Muzdalifah setelah pertengahan malam menuju Mina sebelum padat. Ini merupakan kemudahan dalm Islam.

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *